Friday, December 26, 2008

Laki-laki Patah Hati

Laki-laki Patah Hati

Seperti apakah bila laki-laki patah hati? Jawabannya tidak tahu. Seberapa besarnya kadar patah hati tersebut juga menentukan apa yang dirasakan lelaki patah hati.

Dulu, sewaktu SMA, ada seorang guru bahasa Inggris. Dia patah hati karena hubungannya dengan seorang wanita berambut panjang kandas. apa yang terjadi kemudian? Wajahnya selalu tampil dalam keadaan murung, jutek, dan tidak ramah. Dia sering bercerita tentang hari kiamat, kisah-kisah sedih dalam bahasa Inggris yang selalu punya ending ada yang mati. Lalu ketika ulangan, dia tiba-tiba mengelus rambut siswi yang rambutnya panjang sambil matanya kosong. Tentu saja siswi tersebut ketakutan. Sekarang, dia sudah menikah. Guru tersebut wajahnya lebih cerah dan tidak pernah mengelus rambut siswi lagi. Dia bisa cerita lucu.

Nah, ketika aku kuliah S1 di UGT (Universitas Gajah Tapa), aku merasakan patah hati terparah. Ternyata aku tahu apa yang dirasakan guru itu. Aku mulai terobsesi dengan kematian. Aku tiba-tiba kehilangan gairah hidup. Aku jadi malas belajar, dengan pikiran, ah buat apa belajar, hidupku tidak akan lama lagi, kok. Aku juga jadi banyak marah-marah. Aku juga melepaskan kesempatan untuk mendapat Cum Laude. Begitu hancurnya hidupku.

Seorang kawan memberiku buku. Buku itu menganjurkan aku rajin membaca Kitab Suci, berdoa, meditasi, dll. Seorang kawan yang lain mengajakku Doa Rosario. Yah, kucoba. Ternyata sulit sekali berdoa dalam keadaan jiwa yang hancur. Juga membaca Kitab Suci itu ternyata sulit sekali.

Suatu hari, aku datang ke suatu tempat. Di tempat itu, aku menemukan semacam pencerahan. Ada dua hal penting, yang mengubah hidupku. Pertama, aku ditawari kekuasaan dunia, suatu hal yang saat itu begitu menarik bagi diriku. Aku tolak. Rasanya seperti menyangkal diriku sendiri. Kekuasaan itu begitu menarik, tapi ada sesuatu hal yang lebih tinggi yang membuatku menolak kuasa itu. Kedua, aku menemukan seorang wanita yang menyelamatkanku dari kehancuran.

Semalam sepulang acara itu, dadaku terasa sesak. Mimpi-mimpi tak beraturan. Mengapa aku merasa seperti kematian datang menjemputku? Lalu kulihat cahaya dalam mimpiku. Paginya aku bangun. Tiba-tiba seluruh hidupku berubah. Semangat hidupku kembali lagi. Aku seperti menjadi manusia baru.

Aku jadi tahu apa tujuan hidupku saat itu, yaitu
1. menyelesaikan studi S1
2. memperjuangkan cinta wanita itu
3. berdamai dengan Tuhan
4. yah, dan lain-lain.

Semua kacau balau Tugas Akhir S1 dalam 3 semester, bisa diselesaikan hanya dalam 3 bulan, laporan diselesaikan dalam 3 minggu. Walau aku harus berjuang melawan listrik mati (PLN brengsek) dan lain-lain, namun aku selalu merasakan bahwa ini bukan saatnya menyerah.

Ternyata memperjuangkan cinta wanita itu, juga banyak rintangan. Aku harus menghadapi banyak saingan, lalu ibunya yang kaga siap, dianya yang jual mahal, dan yang paling berat adalah menghadapi diri sendiri. Sifatku yang neurotik dan mengalami gangguan komunikasi "minta perhatian" lebih, lumayan mengganggu hubungan ini. Ternyata aku berhasil mendapatkan cinta wanita ini.

Ternyata setelah aku lulus S1 dan setelah mendapat cinta wanita ini, hidupku berubah lebih baik lagi. Aku bisa menghargai kehidupan. Aku tidak lagi terobsesi dengan kematian. Aku tahu apa tujuan hidupku. Aku bisa melihat cinta di mata kedua orangtuaku, di mata kawan-kawan, dll. Aku bisa bersyukur atas kehidupan. Aku bisa tahu arti pepatah "Seberapapun gelapnya malam, esok cahaya kan datang".

Sayang sekali, aku harus memutuskan wanita ini pada hari keberangkatanku dari Indonesia, atau sehari sebelum sampai Jerman. Namun, tidak ada patah hati parah selama memutuskan wanita ini. Aku bisa tahu kalau ini yang terbaik.

Wanita ini sudah membasuh jiwaku dan sudah saatnya dia membasuh jiwa yang lain. Walau bara cinta masih ada dalam diriku, tapi cinta ini tidak cukup buat kami mengorbankan waktu dan perasaan dalam penantian. Bara cinta ini tak cukup untuk membangun kesetiaan. Selain itu, sepertinya banyak ketidakseimbangan kosmik yang terjadi dalam hubungan ini. Aku tahu dia akan menemukan pria yang lebih baik dariku. Dan aku tahu pula aku akan mendapat sesuatu yang lebih besar dengan mengorbankan hubungan ini.

Aku kini yakin Tuhan punya rencana besar bagi diriku. Aku sudah merasakan didikan Tuhan, dan aku kini Condro yang berbeda. Lebih kuat, lebih tegar, lebih berani, dan tahu apa yang kumau, dan yang lebih penting adalah lebih siap menerima didikan Tuhan yang akan datang.
Yah, kadang-kadang sisi gelapku mengajakku untuk kembali ke duniaku yang hancur dulu. Tapi cahaya ini masih terlampau indah untuk membuatku pergi ke kegelapan.

2 comments:

Claude C Kenni said...

Jadi penasaran nih, itu siapa ya guru bahasa inggrisnya? Jangan2 saya pernah diajar? Hehe

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna said...

Guru Bahasa Inggris tersebut memiliki diktat yang rapi dan enak dibaca.