Friday, August 22, 2008

Cinta tak harus memiliki?

Cinta tak harus memiliki?

Ah, yang benar saja.

Jika kamu berpikir cinta tak harus memiliki, itu bisa dua macam artinya.

Pertama, kamu memang memutuskan untuk hidup selibat, macam pastor Katolik atau biksu. Memang kamu sudah berkomitmen untuk tidak menikah.

Kedua, kamu adalah orang yang tidak menghargai komitmen.
Lembaga pernikahan dibentuk manusia untuk mengukuhkan ikatan kepemilikan. Ketika dua orang manusia memutuskan untuk saling memiliki, maka biasanya ada yang namanya komitmen. Komitmen dimulai dalam 'ikatan perjanjian tak tertulis antara dua orang' yang bernama 'pacaran' kemudian menjadi 'ikatan yang tertulis dan tak tertulis yang diakui dan disaksikan oleh banyak orang (termasuk institusi negara dan lembaga agama)' yang bernama 'pernikahan'.


Cinta tak harus memiliki?

Yang benar aja?

Emangnya kau mau jadi Kahlil Gibran dengan cinta platoniknya?

Tidak memiliki memang berhubungan dengan kebebasan. Tanpa komitmen berarti orang memang bebas.
Tapi dalam kebebasan itu, apakah kita merasa bahagia?

Melihat seseorang yang kita cintai tidak dapat kita miliki, bahagiakah kita?
Gonta-ganti pasangan tiap hari, bahagiakah kita?

Jika kita membiarkan seseorang yang kita cintai bahagia bersama yang lain, maka itu berarti kita menghargai komitmen dia untuk bersama dengan yang lain. Tapi itu bukan berarti cinta tak harus memiliki. Karena dia yang kita cintai sudah punya kepemilikannya. Dan kita hormati keputusannya itu.

Namun kalau betul-betul cinta, sebaiknya tetap berjuang untuk memiliki. Tentu saja perjuangan untuk merebut kepemilikan atas nama cinta, juga memiliki batas-batas tertentu. Contohnya sih, jangan sampai menghancurkan lembaga pernikahan dan juga jangan merusak persahabatan.

Cinta memang anugerah Tuhan yang cuma-cuma.

Namun kepemilikan hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang memperjuangkannya.

Kalau ada orang yang bilang cinta tak harus memiliki, bilang aja,
'untukmu agamamu, untukku agamaku'

Manifesto Jomblo:
Jomblo sedunia bergeraklah, dari pabrik turun ke jalan, dari jalan menuju revolusi cinta, mari kita wujudkan kepemilikan bersama atas alat produksi, eh salah alat reproduksi. Mari kita memperjuangkan kepemilikan.

3 comments:

Solusi Romansa said...

Bicara soal revolusi budaya, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm

Claude C Kenni said...

Setuju pa, cinta tidak harus memiliki cuma akal2an yg dibuat oleh para loser yg tidak berani berjuang untuk mendapatkan cintanya. Memang ada satu tahap dalam hidup di mana kita harus belajar untuk merelakan, tapi itu nanti, kalo bener2 udah dead end, ga ada jalan lagi selain mundur. Selama masih ada peluang, selama belum ada janur kuning, dan selama kita belum ilfil, maju terus! Pantang mundur!

Salam kenal, mantanmuridpraktikumfisikadialoysa

http://claude-c-kenni.blogspot.com/

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna said...

Kepemilikan pribadi atas alat reproduksi.

Oh, ya, salam kenal.